Archive for December, 2007

Goodbye world!

Setiap ada hello, pasti ada goodbye. So this is goodbye. Enam bulan ngeblog di sini rasanya baru sedikit yang kutulis dengan sedemikian banyak yang terbaca dan tersisa tak terbaca. Membaca tak harus berkomentar, dan berkomentar tak selalu berarti membaca sekaligus mengerti maksud tulisan.

May, this is also my not-so-good homework. Semoga tahun 2008 aku tetap bisa mengisi komen, menjadi bagian dari blogroll kalian dan diajak kopdar :lol: Mudah-mudahan tahun kabisat mendatang akan menjadi semangat dan perbaikan buatku dalam menulis, berkendara dan berkeluarga (baca dari belakang :P ).

Bulan Desember-Januari beberapa tahun terakhir ini selalu penuh bencana. Mudah-mudahan kita tidak larut dalam gemerlap pesta dan nikmat yang fana.

You say yes, I say no
You say stop and I say go, go, go
Oh, no
You say goodbye and I say hello
Hello, hello
I don’t know why you say goodbye
I say hello
Hello, hello
I don’t know why you say goodbye
I say hello

The Beatles – Hello Goodbye

Pindah ke caplang[dot]net

Comments (80)

Membaca Langit

 

Sayang, maaf ya pagi ini aku ga bisa nganter kamu. Andai aku lakukan itu, aku pasti sudah kehujanan. Kamu ga mau aku sakit kan? Iya kan?!?

SMS delivered to 081*71*73*

Maaf, pahlawan muda… Bahkan aku tak mengenalmu sebelum itu. Andai iya, sudah kuperingatkan rencana penembakan kalian, seperti saat aku bercerita bahwa esok akan ada duka, banyak sekali duka, duka yang akan menjadi sejarah kelam bangsa, duka yang mestinya membawa perubahan. Ya, aku sudah bilang ke teman-teman bahwa esok akan menjadi duka atas kalian, pahlawan muda.

Aku sudah bilang. Langit malam ini bersemburat warna darah, dari ujung utara hingga selatan. Angin tak berani bernapas. Bulan pucat bersembunyi di balik awan hitam, mungkin sambil menangis: akan ada korban. Aku tahu, tanganku gemetar menggambar kurva persamaan-entah-apa menghitung hari saat kawah ini akan meletus. Bulu kudukku merinding. Hati ini tersayat menyambut kematianmu-entah-siapa. Ibu pertiwi menangis.

Aku mengenakan kaos hitam malam itu, tanpa jaket almamater. Aku menyambut pengorbananmu, pahlawan muda.

Semanggi, 13 November 1998

Comments (27)

Sate Kiloan dan Gunung Pancar

Sate Kiloan
Menyikapi hari kerja yang selang-seling antara masuk dan libur (rabu masuk, kamis libur, jumat masuk, sabtu-minggu libur, senin masuk, selasa libur) kemarin, ditambah aura malas kerja liburan yang membasuh hati dan adanya ultah teman kantor, membuahkan keputusan untuk manasin motor. Target : sate kiloan di Sentul dan Gunung Pancar.

Tujuh orang pengembara pengendara sudah siap dengan motornya. Mulai dari Honda Tiger, Honda Megapro, Honda CBR dan tak ketinggalan The Black Sweet (item-manies) Vitri! Pukul 12, bertepatan dengan jam istirahat siang semua mulai bersiap. Dan pukul 01.30 kami memulai perjalanan.

Rute yang dilewati Jl. TB Simatupang ke arah Depok untuk menjemput teman, lalu lewat Kampung Tengah(?) karena rutenya lebih sepi dan kontur jalan turun naik dan berkelok. Di sini rombongan sempat berhenti karena hujan. Sebenarnya sih lebih karena perut yang melilit akibat belum makan siang. Lanjut lagi ke arah Cibinong dan masuk ke sirkuit Sentul. Perjalanan hanya sekitar 2 jam sudah termasuk beberapa kali berhenti.

Warung sate yang dituju tak terlalu ramai tapi juga tidak sepi. Beberapa pengunjung memandang aneh dan jijik rombongan motor. Ya iyalah, masih pada pakai jas hujan sih! :lol: Langsung dipesan satu kilo sate kambing, sop kambing dan 10 tusuk sate ayam. Ternyata ada rekan yang tidak mengonsumsi sate kambing. Kami curiga alasannya karena ia tak mau menjadi mahluk kanibal.

Satu kilo sate kambing kira-kira sama dengan 48 tusuk. Dengan 6 personil, tiap orang berhak mendapatkan 8 tusuk plus sop kambing. Sedikit kan? *membela diri* Total kerusakan sekitar 200 ribuan. Ya namanya juga ditraktir, jadi ga tau pastinya… :P

Gunung Pancar
Selesai makan tubuh ini maunya bertanduk istirahat saja. Namun yang lain tetap memaksa untuk ke Gunung Pancar. Karena belum pernah ke tempat itu ya ikut deh. Dari lokasi warung ke Gunung Pancar tak terlalu jauh, melewati jalan yang menanjak dan berlubang. Gunung… lubang… becek setelah hujan… ah memang berbahaya bila tak waspada!

Yang ditawarkan di sini adalah pemandian air hangat. Pemandangan di sekitarnya pun lumayan memikat. Malah ada rekan yang pernah menjadikan lokasi ini sebagai tempat bermain perang-perangan dengan ersopgan.

Bukan itu yang kami cari. Bukan pula lawan jenis meskipun kami baru saja melahap daging kambing yang katanya bisa bikin gairah-tak-biasa membludak diri. Kami hanya ingin berpose sejenak untuk membuat rekan yang tak ikut supaya iri.

Lumayanlah sebagai pengganti turing panjang akhir tahun yang gagal. Target berikutnya, Sabtu besok mau manasin motor ke Sumedang. Yeach!!

gunung_pancar.jpg
caplang™ (nomor tiga dari kanan)

Comments (35)

i-bu per-gi ke pa-sar

i-ni i-bu bu-di
i-ni ba-pak bu-di
i-bu per-gi ke pa-sar

Untuk menambah penghasilan keluarga, Bapak dan Ibu membuat warung kelontong di rumah. Penghasilan Bapak sebagai pegawai negeri masih harus ditambah untuk menghidupi Pandawa Lima. Warung sederhana yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga, utamanya sembako. Warung yang dulunya hanya bertutupkan susunan papan kayu yang dinomori cat Kuda Terbang untuk menghindari salah pasang hingga saat ini memakai rolling door untuk berlindung dari maling nakal.

Sebagai pemegang tampuk kekuasaan anak bungsu selama 7 tahun, aku selalu mendapat belaian dan manja Ibu. Saking dimanjanya, setiap pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan warung pilihan selalu jatuh ke aku. Pasar Kebayoran Lama, Pasar Mayestik, Pasar Senen di antara yang menjadi langganan kami. Jalanan becek, tawar-menawar harga, jajanan pasar menjadi menu utama.

Aku paling suka kalau pergi ke Pasar Senen. Biasanya ke sana setelah menikmati jaminan kesehatan pegawai negeri di RS Gatot Soebroto : cabut gigi, sunat, patah tulang aku jalani di rumah sakit itu. Sudah cukup dekat kok tinggal menyeberang jalan saja. Aku suka ke Pasar Senen. Bukan karena banyak penjual buku stensilan karya Eny Arrow yang fenomenal itu. Bukan pula demi membeli buku fotokopi bajakan yang bila dibanding harga buku aslinya… Eh aku tidak membenarkan pembajakan lho. Kecuali untuk buku stensil Eny Arrow itu.

Walaupun jaraknya jauh dari rumah tapi selalu menyenangkan pergi ke sana. Diawali dengan berjalan kaki sejauh 500 meter untuk menjangkau jalur metromini terdekat, lalu naik metromini dengan bangku keras dan lantai yang terkadang bocor hingga menyebabkan asap knalpot menjadi penghias membuat kami bagai artis Safari hari Minggu di TVRI yang sedang beraksi, hingga berdesakan walaupun dulu belum separah sekarang.

Perjuangan mencapai lokasi selalu sebanding dengan iming-iming kenikmatan usai cabut gigi. Pasar Senen terkenal sebagai pusat penjualan mainan bahkan sampai sekarang. Mulai dari mobil-mobilan, pistol-pistolan atau seragam polisi dan tentara bagi yang suka mempermainkan diri dan orang lain dengan menjadikan dirinya sebagai aparat. Begitu berlimpahnya karunia produsen mainan. Semoga tuhan membalas jasa kalian.

Aku memang anak yang nakal. Bila melewati toko mainan dan aku tertarik pada satu benda, aku akan berusaha sepenuh jiwa dan raga untuk mendapatkannya. Trik Ibu untuk memilih jalan memutar tak selalu berhasil. Bila rencana A alias merengek gagal akan dilanjutkan dengan rencana B : menangis keras. Ternyata rencana hanya rencana, ada saja yang menyebabkan kegagalan. Kata guru Bahasa Indonesia, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Maka rencana C pun dijalankan… Persis di depan toko aku mengangkat-angkat rok ibu sambil meminta untuk dibelikan mainan. Berhasil! Lho kan aku sudah bilang aku ini anak yang nakal.

Warung Ibu terus bertahan dan berkembang sampai sekarang. Sudah lebih dari dua dasawarsa warung itu bertahan, dan aku sedikit lebih tua darinya. Beberapa tahun terakhir, penjualan minyak tanah menjadi andalan. Tapi sepertinya Bapak dan Ibu tidak akan lama lagi berhenti berjualan minyak tanah seiring kebijakan pemerintah untuk mengganti minyak tanah dengan gas.

Wah kok jadi ngelantur kemana-mana sih? Bingung, terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang sosok Ibu. Ibu yang selalu menggerus obat jika anaknya yang ganteng dan nakal ini sakit. Ibu yang tak bosan mengingatkanku kala aku berbuat salah. Ibu yang sudah jarang berbelanja ke pasar tradisional dengan semakin banyaknya pasar modern seperti karpur, jayen, alfa, indomaret. Dan Ibu yang sekarang sedang menjalankan ibadah di tanah suci dan baru akan kembali beberapa hari lagi. Aku kangen pelukanmu, Ibu. Tuhan, biarkan aku bersujud lagi di pangkuannya.

Selamat Hari Ibu. :)

Comments (61)

susu-kopi

ini kisah susu dan kopi
mereka berjanji
bertemu satu waktu nanti
di warung kopi

ini kisah susu dan kopi
berulang janji tak tertepati
seiring waktu terus berlari
sibuk susu sibuk kopi

ini kisah susu dan kopi
tatap mata hancur imaji
dengar kata terbebas mimpi
intip hati susu dan kopi

ini kisah susu dan kopi
mengenang yang tlah pergi;
keajaiban ilahi;
gosip tetangga kanan-kiri

ah waktu masih saja berlari!
mengejar susu mengejar kopi
retas dunia wujudkan mimpi
sampai jumpa susu dan kopi

Comments (69)

Older Posts »