Akhirnya saya putuskan untuk menulis hal ini, bagaimana kita sebagai warga sipil berhak untuk berdebat atau mengajukan argumentasi kepada polisi atau siapa pun yang memberhentikan kita di jalan. Lakukan dengan senyum dan ramah atau Anda akan dituduh melawan aparat.
Ada aja deh alasannya!
Debat #1
Awalnya sih kemarin siang waktu ngobrol sama istri di mobil. Dia cerita kalau teman kerjanya baru-baru ini mengalami peristiwa yang —menurut saya— cukup menarik. Saat berada di suatu ruas jalan dengan 2 lajur, di sisi kanan cukup padat dan sisi kiri juga padat, dipenuhi 2 orang polisi dengan motornya masing-masing yang berbanjar dan asyik berbicara sehingga menutupi jalan. Ah tapi banyak kok pengendara motor yang ngobrol dengan teman di sampingnya tanpa sadar kalau mereka menguasai jalan. Atau memang jadi kepuasan tersendiri saat bisa jadi raja jalanan? Kalau mau ngobrol ke warung kopi yang ada wifi gratisnya saja, lebih enak sambil ngeblog!
Balik lagi ke 2 polisi tadi, rekan istri, disebut saja RI, berusaha melewati bapak-bapak polisi namun agak sulit sehingga mobilnya nyaris menyerempet salah satu motor. Kemudian ia meneruskan perjalanan. Sekitar 200 meter dari tempat tadi ternyata polisi itu mengikuti dan kemudian memberhentikan mobilnya. Terjadi dialog sebagai berikut :
Polisi : Bisa lihat surat-suratnya?
RI : (nunjukin surat-surat yg lengkap) Emang salah saya apa, pak?
Polisi : Kamu tadi hampir nyerempet saya!
RI : Lha abis bapak juga ngobrol seenaknya. Ga sadar ya nutupin jalan? Itu juga kan salah, pak!
Polisi : (berusaha mencari-cari kesalahan) Nah ini kok plat nomornya ga pake yang asli?
RI : Emangnya ga boleh ya? Pasal berapa, pak?
Ternyata oh ternyata RI sudah menyalakan fitur voice recorder-nya bahkan sempat memotret wajah polisi dengan hape kamera 3,5MP dan 3G. Polisi pun kemudian menyadari hal ini dan keberatan dengan yang dilakukan RI. RI berkeras untuk menyimpan hasil rekamannya. Akhirnya polisi bersedia melepas RI pergi setelah yakin rekaman dan foto barbuk sudah dilenyapkan.
Debat #2
Nah kalau ini kisah yang saya alami sendiri. Minggu jam 2 dinihari saya mesti berdebat dengan seorang BM. Awalnya, setelah bubar dari kopdar di Taman Suropati, Menteng beberapa teman hendak pulang bareng. Dari TamSur ke arah Jl. Diponegoro dan belok kiri ke arah Kuningan.
Begitu belok kiri sudah ada beberapa BM yang berjaga di situ dan salah satunya memberhentikan rombongan. Terjadi perdebatan tentang bekibolang, termasuk saya yang mempertahankan argumentasi bahwa bekibolang bisa saja dilakukan bila tak ada rambu dan/atau lampu lalu lintas yang menyatakan demikian. Mungkin karena anggota rombongan cukup banyak dan saya keukeuh bertahan, bapak BM pun merelakan kami untuk melanjutkan perjalanan.
Mungkin kisah kedua mirip dengan kisah pertama dan menjadi biasa saja andai saya tidak melakukan debat via telepon. Ya, teman saya yang berada di lokasi kejadian memutuskan untuk mengganggu proses orgasme saya dan mengalihkannya kepada menelepon saya dan berdebat dengan seorang BM. Untung otak mesum ini bisa cepat tanggap. Lha wong lagi enak-enak tidur kok dibangunin…
Sebenarnya bukan hal yang membanggakan untuk ditulis mengingat ini sama halnya dengan membuka kekurangan orang lain. Bukan untuk menyerang profesi tertentu karena siapa saja bisa jadi pelaku korupsi. Namun mesti dilakukan untuk menghindari hal yang sama terjadi pada Anda, agar tak ada lagi korupsi di jalanan.
Artikel terkait :
- Nasib Pelat B
- Belok Kiri Boleh Langsung?
- Safety Riding dan Aturan Lalu Lintas
- Stop Korupsi Jalanan





