i-ni i-bu bu-di
i-ni ba-pak bu-di
i-bu per-gi ke pa-sar
Untuk menambah penghasilan keluarga, Bapak dan Ibu membuat warung kelontong di rumah. Penghasilan Bapak sebagai pegawai negeri masih harus ditambah untuk menghidupi Pandawa Lima. Warung sederhana yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga, utamanya sembako. Warung yang dulunya hanya bertutupkan susunan papan kayu yang dinomori cat Kuda Terbang untuk menghindari salah pasang hingga saat ini memakai rolling door untuk berlindung dari maling nakal.
Sebagai pemegang tampuk kekuasaan anak bungsu selama 7 tahun, aku selalu mendapat belaian dan manja Ibu. Saking dimanjanya, setiap pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan warung pilihan selalu jatuh ke aku. Pasar Kebayoran Lama, Pasar Mayestik, Pasar Senen di antara yang menjadi langganan kami. Jalanan becek, tawar-menawar harga, jajanan pasar menjadi menu utama.
Aku paling suka kalau pergi ke Pasar Senen. Biasanya ke sana setelah menikmati jaminan kesehatan pegawai negeri di RS Gatot Soebroto : cabut gigi, sunat, patah tulang aku jalani di rumah sakit itu. Sudah cukup dekat kok tinggal menyeberang jalan saja. Aku suka ke Pasar Senen. Bukan karena banyak penjual buku stensilan karya Eny Arrow yang fenomenal itu. Bukan pula demi membeli buku fotokopi bajakan yang bila dibanding harga buku aslinya… Eh aku tidak membenarkan pembajakan lho. Kecuali untuk buku stensil Eny Arrow itu.
Walaupun jaraknya jauh dari rumah tapi selalu menyenangkan pergi ke sana. Diawali dengan berjalan kaki sejauh 500 meter untuk menjangkau jalur metromini terdekat, lalu naik metromini dengan bangku keras dan lantai yang terkadang bocor hingga menyebabkan asap knalpot menjadi penghias membuat kami bagai artis Safari hari Minggu di TVRI yang sedang beraksi, hingga berdesakan walaupun dulu belum separah sekarang.
Perjuangan mencapai lokasi selalu sebanding dengan iming-iming kenikmatan usai cabut gigi. Pasar Senen terkenal sebagai pusat penjualan mainan bahkan sampai sekarang. Mulai dari mobil-mobilan, pistol-pistolan atau seragam polisi dan tentara bagi yang suka mempermainkan diri dan orang lain dengan menjadikan dirinya sebagai aparat. Begitu berlimpahnya karunia produsen mainan. Semoga tuhan membalas jasa kalian.
Aku memang anak yang nakal. Bila melewati toko mainan dan aku tertarik pada satu benda, aku akan berusaha sepenuh jiwa dan raga untuk mendapatkannya. Trik Ibu untuk memilih jalan memutar tak selalu berhasil. Bila rencana A alias merengek gagal akan dilanjutkan dengan rencana B : menangis keras. Ternyata rencana hanya rencana, ada saja yang menyebabkan kegagalan. Kata guru Bahasa Indonesia, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Maka rencana C pun dijalankan… Persis di depan toko aku mengangkat-angkat rok ibu sambil meminta untuk dibelikan mainan. Berhasil! Lho kan aku sudah bilang aku ini anak yang nakal.
Warung Ibu terus bertahan dan berkembang sampai sekarang. Sudah lebih dari dua dasawarsa warung itu bertahan, dan aku sedikit lebih tua darinya. Beberapa tahun terakhir, penjualan minyak tanah menjadi andalan. Tapi sepertinya Bapak dan Ibu tidak akan lama lagi berhenti berjualan minyak tanah seiring kebijakan pemerintah untuk mengganti minyak tanah dengan gas.
Wah kok jadi ngelantur kemana-mana sih? Bingung, terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang sosok Ibu. Ibu yang selalu menggerus obat jika anaknya yang ganteng dan nakal ini sakit. Ibu yang tak bosan mengingatkanku kala aku berbuat salah. Ibu yang sudah jarang berbelanja ke pasar tradisional dengan semakin banyaknya pasar modern seperti karpur, jayen, alfa, indomaret. Dan Ibu yang sekarang sedang menjalankan ibadah di tanah suci dan baru akan kembali beberapa hari lagi. Aku kangen pelukanmu, Ibu. Tuhan, biarkan aku bersujud lagi di pangkuannya.
Selamat Hari Ibu.





