Sebuah teori yang disusun Edy Al-Caplangiyah™ berdasarkan pengalaman yang minim, obrolan jalanan dan sedikit catatan dari seminar Indonesian Consumunity Expo 2007 dan dibuat dengan metode asal-asalan, sok tahu, tidak ilmiah, berdasarkan penerawangan, membaca langit dan tak bisa dipercaya.
Berikut contoh komunitas yang sempat saya rekam di seminar tersebut. Tak termasuk komunitas saya lhoo… Kalau mau baca sekilas sejarah komunitas saya ada di sini. Mohon maaf bila ada kesalahan data.
Honda Tiger Mailing List (HTML)
Berawal dari milis hingga sekarang berkembang memiliki lebih dari 1500 anggota resmi alias yang memiliki nomor anggota ditambah ribuan anggota milis dan forum dan lebih banyak lagi threat posting. Domisili anggota pun tak terbatas di tanah air namun juga di negara lain. Memiliki beberapa divisi yang aktif, misalnya HTML Safety Riding Team (HSRT). HSRT tidak hanya giat mengampanyekan kesadaran aman berkendara bagi anggotanya tapi juga menyelenggarakan Safety Riding Course (SRC) bagi pihak lain yang membutuhkan. Kerja sama sudah pernah dilakukan dengan beberapa perusahaan untuk karyawannya. Selain itu HSRT juga mengadakan riset untuk kemudian mengejawantahkan hasil riset dalam SOP Turing dan dipublikasikan untuk umum. Salah satunya adalah klotur (kelompok turing) maksimal berisi 8 motor, pentingnya DRL (Daylight Running Lamp) dan banyak lagi.
HTML juga memiliki ciri unik lain, berusaha out of mainstream. Saat banyak klub senang menggunakan sirine dan strobo di motornya, mereka malah sibuk melucuti perangkat itu. Bahkan Koperasi HTML sudah memiliki AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) dan menggaji seorang sekretaris dan menjalankannya secara profesional. “Mungkin saja 10 tahun lagi HTML akan memiliki pom bensin”, tutup Syamsul.
Sponsor yang menjalin kerja sama saat ini antara lain Pertamina, Dji Sam Soe Super Premium. HTML cukup selektif dalam menjalin kerja sama.
BIG Reds Indonesia
Komunitas penggemar Liverpool FC ini berawal tahun 1999 berada di Bandung dan inisiatif datang dari segelintir orang. Setelah sempat vakum akhirnya diputuskan untuk memindahkan tampuk kepemimpinan ke Jakarta. Dari milis, situs dan kopdar akhirnya dibentuk kepengurusan yang baru dan memiliki cabang di berbagai daerah.
Salah satu peraihan BIG Reds Indonesia adalah ditunjuk sebagai salah satu komunitas suporter resmi oleh Liverpool FC. Sebagai komunitas yang berawal dari kesamaan hobi penyuka nonton bareng pertandingan Liverpool FC kemudian berkembang memiliki banyak kegiatan lain yang tak mesti berhubungan dengan sepak bola. Ya, akhirnya BIG Reds menjadi big family.
Memiliki hubungan baik dengan ADIDAS yang memegang ijin kaos Liverpool FC. Juga bekerja sama ASSHOLETRO yang memiliki hak siar eksklusif untuk Liga Inggris.
Natural Cooking Club (NCC)
Berawal dari kursus memasak di daerah Matraman, ibu Fatmah dan suami mencoba mendirikan milis, 4 orang hingga akhirnya menjadi ribuan yang juga tak hanya berdomisili di Indonesia, bahkan tak cuma WNI. NCC juga sempat menorehkan prestasinya di MURI dengan membuat ratusan kue tart berhias. Tak cuma lingkup nasional, komunitas ini bahkan pernah mendapat liputan dari CNN.
NCC bertekad membelajarkan perempuan yang hobi masak supaya bisa lebih produktif dan memiliki kemampuan lain. Bahkan ada kursus menulis bekerja sama dengan KOMPAS dan ngeblog yang dipandu salah satu anggotanya. Bahwa memasak tak melulu menghabiskan uang, malah bisa menjadi sumber pemasukan. “Makanya pasang internet di rumah buat istrinya, dijamin bermanfaat”, kata Ibu Fatmah.
Pengaruh komunitas terhadap penjualan produk sangat jelas terlihat. Misal ada buku memasak terbitan baru dan dicoba dan kemudian diceritakan, jangan kaget bila dalam sekejap buku tersebut akan habis terjual! Atau produsen alat memasak yang memberikan perlengkapan memasak gratis kepada ibu Fatmah untuk digunakan dalam kegiatannya.
Penutup
Komunitas akan terbentuk dari pribadi-pribadi yang awalnya hanya memiliki satu kesamaan/hobi dan memutuskan untuk membentuk ikatan organisasi. Ada yang aktif, ada yang lebih suka ngikut aja, ada yang hobi jualan, dll. Tentu bukan hal yang mudah untuk menyatukan pribadi yang berbeda dalam satu wadah. Tak semua keinginan dapat terpuaskan. Dan rasanya tak mungkin menjadi komunitas yang ideal nan sempurna. Satu lagi yang penting, jangan sampai komunitas hanya berumur 5 tahun kemudian bubar. Masa 3 tahun awal akan menjadi menegangkan dan menarik!
Lantas, apa yang dibutuhkan untuk bisa membangun dan menjalankan komunitas? Berbekal kesamaan yang dilandasi komitmen yang kuat, visi dan misi yang jelas, manajemen yang baik bisa membentuk komunitas yang diinginkan. Rela berkorban, tanpa pamrih, memiliki waktu (yang di)lebih(-lebihkan) dan ulet. Tak ada salahnya menggandeng sponsor terkait untuk mendukung kegiatan komunitas. Komunitas yang solid, unik dan positif akan lebih menarik bagi sponsor. Sudah liat beberapa contoh di atas kan?
Akhir kata, jangan terlalu percaya dengan tulisan ini. Seperti yang sudah saya katakan di awal tulisan ini dibuat berdasarkan penerawangan dan membaca langit. Kalau Anda masih percaya juga ya terserah saja. Tidak berarti Anda menjadi jamaah Al-Caplangiyah™ kok…





