Archive for December, 2007

Membangun Komunitas

Sebuah teori yang disusun Edy Al-Caplangiyah™ berdasarkan pengalaman yang minim, obrolan jalanan dan sedikit catatan dari seminar Indonesian Consumunity Expo 2007 dan dibuat dengan metode asal-asalan, sok tahu, tidak ilmiah, berdasarkan penerawangan, membaca langit dan tak bisa dipercaya.

Berikut contoh komunitas yang sempat saya rekam di seminar tersebut. Tak termasuk komunitas saya lhoo… Kalau mau baca sekilas sejarah komunitas saya ada di sini. Mohon maaf bila ada kesalahan data.

Honda Tiger Mailing List (HTML)
Berawal dari milis hingga sekarang berkembang memiliki lebih dari 1500 anggota resmi alias yang memiliki nomor anggota ditambah ribuan anggota milis dan forum dan lebih banyak lagi threat posting. Domisili anggota pun tak terbatas di tanah air namun juga di negara lain. Memiliki beberapa divisi yang aktif, misalnya HTML Safety Riding Team (HSRT). HSRT tidak hanya giat mengampanyekan kesadaran aman berkendara bagi anggotanya tapi juga menyelenggarakan Safety Riding Course (SRC) bagi pihak lain yang membutuhkan. Kerja sama sudah pernah dilakukan dengan beberapa perusahaan untuk karyawannya. Selain itu HSRT juga mengadakan riset untuk kemudian mengejawantahkan hasil riset dalam SOP Turing dan dipublikasikan untuk umum. Salah satunya adalah klotur (kelompok turing) maksimal berisi 8 motor, pentingnya DRL (Daylight Running Lamp) dan banyak lagi.

HTML juga memiliki ciri unik lain, berusaha out of mainstream. Saat banyak klub senang menggunakan sirine dan strobo di motornya, mereka malah sibuk melucuti perangkat itu. Bahkan Koperasi HTML sudah memiliki AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) dan menggaji seorang sekretaris dan menjalankannya secara profesional. “Mungkin saja 10 tahun lagi HTML akan memiliki pom bensin”, tutup Syamsul.

Sponsor yang menjalin kerja sama saat ini antara lain Pertamina, Dji Sam Soe Super Premium. HTML cukup selektif dalam menjalin kerja sama.

BIG Reds Indonesia
Komunitas penggemar Liverpool FC ini berawal tahun 1999 berada di Bandung dan inisiatif datang dari segelintir orang. Setelah sempat vakum akhirnya diputuskan untuk memindahkan tampuk kepemimpinan ke Jakarta. Dari milis, situs dan kopdar akhirnya dibentuk kepengurusan yang baru dan memiliki cabang di berbagai daerah.

Salah satu peraihan BIG Reds Indonesia adalah ditunjuk sebagai salah satu komunitas suporter resmi oleh Liverpool FC. Sebagai komunitas yang berawal dari kesamaan hobi penyuka nonton bareng pertandingan Liverpool FC kemudian berkembang memiliki banyak kegiatan lain yang tak mesti berhubungan dengan sepak bola. Ya, akhirnya BIG Reds menjadi big family.

Memiliki hubungan baik dengan ADIDAS yang memegang ijin kaos Liverpool FC. Juga bekerja sama ASSHOLETRO yang memiliki hak siar eksklusif untuk Liga Inggris.

Natural Cooking Club (NCC)
Berawal dari kursus memasak di daerah Matraman, ibu Fatmah dan suami mencoba mendirikan milis, 4 orang hingga akhirnya menjadi ribuan yang juga tak hanya berdomisili di Indonesia, bahkan tak cuma WNI. NCC juga sempat menorehkan prestasinya di MURI dengan membuat ratusan kue tart berhias. Tak cuma lingkup nasional, komunitas ini bahkan pernah mendapat liputan dari CNN.

NCC bertekad membelajarkan perempuan yang hobi masak supaya bisa lebih produktif dan memiliki kemampuan lain. Bahkan ada kursus menulis bekerja sama dengan KOMPAS dan ngeblog yang dipandu salah satu anggotanya. Bahwa memasak tak melulu menghabiskan uang, malah bisa menjadi sumber pemasukan. “Makanya pasang internet di rumah buat istrinya, dijamin bermanfaat”, kata Ibu Fatmah.

Pengaruh komunitas terhadap penjualan produk sangat jelas terlihat. Misal ada buku memasak terbitan baru dan dicoba dan kemudian diceritakan, jangan kaget bila dalam sekejap buku tersebut akan habis terjual! Atau produsen alat memasak yang memberikan perlengkapan memasak gratis kepada ibu Fatmah untuk digunakan dalam kegiatannya.

Penutup
Komunitas akan terbentuk dari pribadi-pribadi yang awalnya hanya memiliki satu kesamaan/hobi dan memutuskan untuk membentuk ikatan organisasi. Ada yang aktif, ada yang lebih suka ngikut aja, ada yang hobi jualan, dll. Tentu bukan hal yang mudah untuk menyatukan pribadi yang berbeda dalam satu wadah. Tak semua keinginan dapat terpuaskan. Dan rasanya tak mungkin menjadi komunitas yang ideal nan sempurna. Satu lagi yang penting, jangan sampai komunitas hanya berumur 5 tahun kemudian bubar. Masa 3 tahun awal akan menjadi menegangkan dan menarik!

Lantas, apa yang dibutuhkan untuk bisa membangun dan menjalankan komunitas? Berbekal kesamaan yang dilandasi komitmen yang kuat, visi dan misi yang jelas, manajemen yang baik bisa membentuk komunitas yang diinginkan. Rela berkorban, tanpa pamrih, memiliki waktu (yang di)lebih(-lebihkan) dan ulet. Tak ada salahnya menggandeng sponsor terkait untuk mendukung kegiatan komunitas. Komunitas yang solid, unik dan positif akan lebih menarik bagi sponsor. Sudah liat beberapa contoh di atas kan?

Akhir kata, jangan terlalu percaya dengan tulisan ini. Seperti yang sudah saya katakan di awal tulisan ini dibuat berdasarkan penerawangan dan membaca langit. Kalau Anda masih percaya juga ya terserah saja. Tidak berarti Anda menjadi jamaah Al-Caplangiyah™ kok… :lol:

Comments (46)

Debat Jalanan

Akhirnya saya putuskan untuk menulis hal ini, bagaimana kita sebagai warga sipil berhak untuk berdebat atau mengajukan argumentasi kepada polisi atau siapa pun yang memberhentikan kita di jalan. Lakukan dengan senyum dan ramah atau Anda akan dituduh melawan aparat. :lol: Ada aja deh alasannya!

Debat #1
Awalnya sih kemarin siang waktu ngobrol sama istri di mobil. Dia cerita kalau teman kerjanya baru-baru ini mengalami peristiwa yang —menurut saya— cukup menarik. Saat berada di suatu ruas jalan dengan 2 lajur, di sisi kanan cukup padat dan sisi kiri juga padat, dipenuhi 2 orang polisi dengan motornya masing-masing yang berbanjar dan asyik berbicara sehingga menutupi jalan. Ah tapi banyak kok pengendara motor yang ngobrol dengan teman di sampingnya tanpa sadar kalau mereka menguasai jalan. Atau memang jadi kepuasan tersendiri saat bisa jadi raja jalanan? Kalau mau ngobrol ke warung kopi yang ada wifi gratisnya saja, lebih enak sambil ngeblog! :P

Balik lagi ke 2 polisi tadi, rekan istri, disebut saja RI, berusaha melewati bapak-bapak polisi namun agak sulit sehingga mobilnya nyaris menyerempet salah satu motor. Kemudian ia meneruskan perjalanan. Sekitar 200 meter dari tempat tadi ternyata polisi itu mengikuti dan kemudian memberhentikan mobilnya. Terjadi dialog sebagai berikut :

Polisi : Bisa lihat surat-suratnya?

RI : (nunjukin surat-surat yg lengkap) Emang salah saya apa, pak?

Polisi : Kamu tadi hampir nyerempet saya!

RI : Lha abis bapak juga ngobrol seenaknya. Ga sadar ya nutupin jalan? Itu juga kan salah, pak!

Polisi : (berusaha mencari-cari kesalahan) Nah ini kok plat nomornya ga pake yang asli?

RI : Emangnya ga boleh ya? Pasal berapa, pak?

Ternyata oh ternyata RI sudah menyalakan fitur voice recorder-nya bahkan sempat memotret wajah polisi dengan hape kamera 3,5MP dan 3G. Polisi pun kemudian menyadari hal ini dan keberatan dengan yang dilakukan RI. RI berkeras untuk menyimpan hasil rekamannya. Akhirnya polisi bersedia melepas RI pergi setelah yakin rekaman dan foto barbuk sudah dilenyapkan.

Debat #2
Nah kalau ini kisah yang saya alami sendiri. Minggu jam 2 dinihari saya mesti berdebat dengan seorang BM. Awalnya, setelah bubar dari kopdar di Taman Suropati, Menteng beberapa teman hendak pulang bareng. Dari TamSur ke arah Jl. Diponegoro dan belok kiri ke arah Kuningan.

Begitu belok kiri sudah ada beberapa BM yang berjaga di situ dan salah satunya memberhentikan rombongan. Terjadi perdebatan tentang bekibolang, termasuk saya yang mempertahankan argumentasi bahwa bekibolang bisa saja dilakukan bila tak ada rambu dan/atau lampu lalu lintas yang menyatakan demikian. Mungkin karena anggota rombongan cukup banyak dan saya keukeuh bertahan, bapak BM pun merelakan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Mungkin kisah kedua mirip dengan kisah pertama dan menjadi biasa saja andai saya tidak melakukan debat via telepon. Ya, teman saya yang berada di lokasi kejadian memutuskan untuk mengganggu proses orgasme saya dan mengalihkannya kepada menelepon saya dan berdebat dengan seorang BM. Untung otak mesum ini bisa cepat tanggap. Lha wong lagi enak-enak tidur kok dibangunin…

Sebenarnya bukan hal yang membanggakan untuk ditulis mengingat ini sama halnya dengan membuka kekurangan orang lain. Bukan untuk menyerang profesi tertentu karena siapa saja bisa jadi pelaku korupsi. Namun mesti dilakukan untuk menghindari hal yang sama terjadi pada Anda, agar tak ada lagi korupsi di jalanan.

Artikel terkait :
- Nasib Pelat B
- Belok Kiri Boleh Langsung?
- Safety Riding dan Aturan Lalu Lintas
- Stop Korupsi Jalanan

Comments (47)

Panggung Jalan Raya

Minggu sore kemarin (16/12), lagi tumben rujuk sama televisi. Jam 18.00 nyalain tv sambil nungguin aza Margrib. Karena ga hafal dengan jadwalnya ya coba dijajaki satu per satu saluran yang ada. Sampai akhirnya tiba di Trans7 yang lagi nayangin acara musik dengan pengisi Andra & The Backbone, Anima, REPVBLIK, UPE feat. Marsha, Terry, dll. Saya ga tahu lengkapnya karena ga nonton sampai habis. Namanya juga rujuk sementara.

Acara yang bertajuk Panggung Jalan Raya (PJR) ini dikemas dengan lawakan pembawa acara Ulfa, Parto dan Akri yang memang sudah sejak dulu bekerja sama di Radio SK tahun 90-an. Mereka bertiga juga mengangkat kejadian yang ada di sekitar masyarakat seperti misalnya rombongan motor yang akan turing, persiapan dan perlengkapan turing, geng motor juga bagaimana gambaran saat ditilang polisi.

Tak ada selingan selain iklan layanan masyarakat dari DIRLANTAS (Direktorat Lalu Lintas) POLRI yang mencoba menampilkan berbagai kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kelalaian pengendara. Tiap akhir iklan juga disertakan kalimat-kalimat yang menghimbau masyarakat untuk bisa tertib di jalan, misalnya : “Ini mata rantai buruknya pelanggaran”, “Orang pintar pilih Mariana Renata”, “Lalai di jalan berarti membahayakan diri sendiri dan orang lain” dan seterusnya. Yah mungkin ga tepat seperti itu tapi kira-kiranya begitu deh…

Saya juga ga mengikuti tayangan ini hingga akhir acara karena masih perang dingin dengan tipi. Ga ngerti juga apa ini acara rutin ditayangkan tiap minggu atau hanya kemarin. Tapi mudah-mudahan kampanye sadar berlalu lintas yang baik tidak hanya berhenti pada satu program namun bisa berkelanjutan dalam bentuk lain. Saingan dengan blog saya nih! :lol:

Comments (29)

SIM Lambang Kebenaran

Pagi hari, di depan sebuah komplek militer. Dari arah belakangku terdengar suara benturan. Ternyata dua motor bersinggungan dan menyebabkan salah satu pengendara terjatuh.

Entah bagaimana sampai bisa terjadi. Tidak tahu juga siapa menabrak siapa. Ingin menolong pun tak sempat karena kalah cepat dengan beberapa tentara jaga yang dengan sigap meminggirkan motor dan menolong pengendaranya. Tak ada cedera serius. Buktinya mereka malah asyik bercengkerama berdiskusi menentukan siapa yang salah.

Kemudian seorang lagi keluar dari pos jaga. Mungkin tertarik dengan cumbu rayu diskusi yang amat menarik antara keduanya. Belum juga sampai, terdengar suaranya berujar, “Tanya saja siapa yang ga punya SIM, pasti itu yang salah”.

Aku (dalam hati) : Lah sejak kapan SIM jadi lambang kebenaran?

Bukan maksud untuk menyerang profesi tertentu. Bukan siapa bicara tapi apa yang dikatakan. Sekedar heran, apa sebegitu saktinya sebuah SIM yang bisa mudah didapat dengan modal beberapa ratus ribu tanpa perlu pembuktian dimilikinya kemampuan berkendara, tahu dan mengerti aturan lalu lintas serta kesadaran saling menghormati sesama pengguna jalan?

Dan aku pun tak tahu hasil keputusan siapa yang bersalah. Karena kalau aku telat tiba di kantor, sistem absensi akan mengurangi penghasilan tanpa menanyakan apa aku punya SIM.

Comments (49)

Perokok Budiman

“Maaf, boleh saya merokok?”

“Sori gw ngerokok ya.”

“Cari tempat makan yang bisa ngerokok ya, say…”

“Pak, smooking room-nya di mana yak?”

Ah memang benar…

Makasih pinjeman bannernya, mas! :)

Comments (49)

« Newer Posts · Older Posts »