Kompor Meleduk!

Bukan lagu almarhum Bang Ben, tapi karena kompor (masih) identik dengan minyak tanah. Setelah sebelumnya demo menentang konversi minyak tanah menjadi gas sempat rusuh, kali ini lagi-lagi minyak tanah bikin meleduk!

Berdasarkan wawancara dan tidur siang di rumah Bapak dan berdasarkan pantauan perkembangan berita di tipi, sepertinya kebijakan ini tak akan ditunda lagi. Apa yang terjadi? Antrian panjang masyarakat berburu minyak mengganggu tidur siangku tampak jelas kemarin (21/08). Sejak mobil tangki datang pukul 10, sudah banyak yang menunggu proses pemindahan minyak tanah dari mobil tangki ke tangki penyimpanan sementara selesai. Oh tidak cuma itu… Banyak juga orang yang menitipkan jerigen minyak tanah beberapa hari sebelumnya.Hanya butuh waktu 5 jam untuk menghabiskan 5.000 liter minyak tanah jatah seminggu. Pembelinya pun tak cuma masyarakat sekitar tapi sudah mulai ada yang datang dari lain propinsi. Ya maklum aja, rumah Bapak kan memang di perbatasan Tangerang sama DKI. 😛

Barusan juga terima sms dari belahan jiwa 😳 Gila! jadi rusuh myk tanah di daerah *****, bikin mct ky uler. Kalau ga ngerti, terjemahannya kira-kira begini : Gila! Jadi rusuh minyak tanah di daerah K***m, bikin macet kaya uler. Hmm… sejak kapan macet jadi mahluk vertebrata?

Masih menurut Bapak, nantinya para raja agen minyak tanah jika ingin melanjutkan berjualan minyak tanah harus disertai dengan berjualan gas minimal 50 buah. Harga minyak tanah nantinya menjadi Rp. 6000/liter. Andai tabung gas isi 3 kg harganya Rp. 13.000, kalau 50 tabung berarti *ambil kalkulator* Rp. 650.000. Eits tunggu dulu, itu sih belum seberapa.

*masih pegang kalkulator* Bagaimana dengan harga minyak tanah yang naik hampir 3x lipat? Harga minyak tanah dari distributor Rp. 2.300/liter dan Bapak menjual dengan harga Rp. 2.500/liter. Dengan jatah mingguan -kalau jadwalnya ga ngaco- keuntungan hanya yaa itung sendiri deh. Kenapa cuma untung sedikit? Maaf ya, Bapakku tidak serakah, beliau tidak berbakat untuk menjadi penimbun atau koruptor! Harga jual untuk end user akan sedikit berbeda dengan harga untuk reseller. Bapak juga berusaha untuk selalu jujur. Sifat ini menurun kepada anaknya berupa ketampanan nan perkasa. Hahaha!

Bapak harus memiliki modal tambahan jika ingin tetap melanjutkan berjualan minyak tanah. Terus, apa pemerintah juga kasih pinjaman modal untuk para agen? Boro-boro minjemin modal, ngebagiin kompor gas gratis aja masih ga becus! Blablabla dan segala cacimaki lainnya. Kata Teteh Joerig, ga usah memaki orang lain, coba berkaca apa diri sendiri udah bener? 💡

*ngaca sambil nyisir*

Buat yang cuma nonton beritanya di tipi, coba deh sekali-sekali datengin agen atau warung yang masih jual minyak tanah. Dan rasakan adrenalin saat antri minyak tanah!

😆

*lanjutin tidur siang*

Advertisements

33 thoughts on “Kompor Meleduk!”

  1. Pingback: Komunitas Bungker
  2. *merasa terpanggil*

    sebuah perubahan untuk “kebaikan” di masa depan seringkali membutuhkan “pengorbanan” …

    *apa coba maksudnya* 😆

  3. Dipotong deh jatah hetrik gara-gara mati lampu di Banda Aceh barusan…

    Eh… mati lampu ya?? 🙄 Baru nyadar ada suara UPS…

    Tuh, gimana tu?! 62 taon merdeka dan 2 dari sekian ibukota propinsi di negeri ini masih bisa mengalami seringnya mati lampu? Coba cek Medan, coba pula cek Banda Aceh.

    7 tahun aku di Banda Aceh, tak pernah ada tahun aman yang nggak ada bulan-bulan dengan masa pemadaman bergilir sampai berminggu-minggu, Ed! Piye tho?!

    Merdeka? Dari penjajahan bangsa lain, iya. Tapi dari pemerintahan bego bin serakah bangsa sendiri? Belum 😦

    Lihat deh tuh di blognya anto tentang pensiun anggota dewan. Coba… siapa yang ndak panas hatinya?? Dimaki-maki dengan segala isi kebun binatang juga masih bagus, Ed!

    Apa pemerintah maunya kita berbuat itu dengan cara bunuh diri massal, ya, biar beban negara berkurang??

    *lempar telur busuk ke gedung pemerintah dan parlemen*

  4. hmm…ngantri panjang ya…
    yang ngantri pasti hawus…
    gw ikut jualan teh botol disekitar rumah loe ya..
    .
    .
    .
    .
    hmmm…mo ngambil ‘untung’ sedikit aja susah ya…

  5. @Joerig™
    *semprot cairan anti hetrik*
    aku cuman kasih gambaran gimana proses perubahan menuju ‘kebaikan’ dan ‘pengorbanan’ yg terjadi di masyarakat
    ternyata ga semudah teorinya 😀

    @alex
    oh mati lampu toh
    pantes ilang dari ym list 😆

    @’K,
    😀

    @sez
    juwalan seztea? 😛

  6. Kalo kata nyokap gw ini persis kyk taon 65an…
    semua musti ngantri ya minyak, beras dll..
    koq kita mundur ya bukan maju…???

    pusing ach gelap…
    [mending ngopi nyo bro..]

  7. waaaaaaa sebel sebel sebel soalna udah abis kecelakaan eh musti ikut2an ngantri minyak tanah sepertinya jaman nyokap bokap gw kecil balik lagi dech jadinya gw juga musti ngerasain gimana lamanya ngantri minyak tanah doangan udah ga ada yg ngasih bangku untuk anak cacat sepertiku lagi btw gimana kalo gw titip ma bapak loe mas ed jadi kan gw ga usah lama lama berdiri bersandingkan tongkat kesayangan selama gw sakit seperti saat ini 😀

  8. budayakan antri…
    yang ngantri rakyat diterik mathari
    yang ngomong pejabat dihotel berbintang
    yang rugi rakyat dirumah dempet
    :mgreen:

  9. @ almas

    budayakan antri…
    yang ngantri rakyat diterik mathari
    yang ngomong pejabat dihotel berbintang
    yang rugi rakyat dirumah dempet

    petrus saja mereka! petrus-kan saja! ❗

  10. @sezsy
    kaosnya gratis kan!

    @Matrix Blue Thunder
    kalo pelajaran ngulang aja artinya ada yg salah yak? 😆

    @Inul075
    boleh aja tp ada tambahan biaya 10%
    buat gw nemenin elo ngobrol 😛

    @anker
    kapan… kapaaaan… *lagu Koes Plus*

    @mahmudinceria
    saya ga punya bajakannya
    boleh dong pinjem 😀

    @almas
    :mrgreen:

    @alex
    boleh juga menghidupkan kembali petrus
    kalo perlu skalian sama teman-temannya
    di desa tumaritis masih ada ki semas, gares, bagos 😆

  11. mas ed gw ga ngikud ngantri cukup jerigennya aja yg ngantri jadi loe ga usah nemenin gw ngobrol n gw ga usah ngasih persekod buat loe 😀

  12. saya anak kosan niy, jadi gak pernah masak…en gak tau perkembangan seluk beluk minyak tanah en perangkat2nya…. 🙂

  13. oia, di kampung saya sich kata mama udah mau bermigrasi dari konsumen gas en minyak tanah beralih ke kayu bakar… hikss…

  14. Semoga pas waktunya puasa atau H-10 sebelum idul fitri minyak nggak bengkak lagi harganya.
    Kasiah mereka yang tidak mampu daripada kita.
    Lagian kita juga nggak bisa lagi tuh nikmatin pisan goreng pinggir jalan yang harganya 1000 dapet 3.

  15. @nyonk
    hahaha enak banget yak ngeluarin komentar kaya gitu
    Bapak Jusuf Kalla YTH kan emang banyak duitnya
    jadi ga majalah kalo mesti beli gas
    pengusaha gitu lhoo…
    apalagi ditambah proyek kompor gas buat rakyat

    makasih telah sudimampir n kasih info

    *salaman*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s