Pilih Gaya atau Fungsi?

Bagi pemilik sepeda motor, modifikasi merupakan hal yang lumrah dilihat. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari modifikasi ringan, menengah sampai total. Sektor yang disentuh pun tidak lagi terbatas pada perubahan kaki-kaki tapi sudah mencapai tampilan bodi bahkan kemampuan mesin.

Memang sifat orang berbeda-beda. Ada yang ingin tampil biasa-biasa saja, entah karena memang tidak ingin berlebihan atau karena tidak ada bajet untuk modif. Ada juga yang ingin memiliki tampilan berbeda dari orang lain.

Banyaknya toko asesoris dan pusat perbelanjaan suku cadang motor membuat orang makin mudah mengaksesnya. Kalau dulu mungkin hanya berpusat di Otista, Jakarta Timur atau Bonjer, Jakarta Barat, sekarang setiap daerah memiliki sentar onderdilnya masing-masing. Lihat saja sekarang di sepanjang jalan Cileduk.

Barang yang dijual pun macam-macam. Mau beli yang baru ada, yang bekas ada, yang bekas tampil seperti baru ada, yang baru kualias lapis dua (KW2) ada, yang baru dengan bungkus dan hologram palsu juga ada. Harganya pun bervariasi menyesuaikan daya beli konsumen. Tapi tentu saja pepatah lama masih dominan berlaku, ada harga ada kualitas.

Dari sekian banyak barang yang ditawarkan, ada yang memiliki fungsi sesuai janji dan berguna untuk mendukung perangkat lain saat berkendara. Misalnya penggantian ban menggunakan jenis Bridgestone Battlax tentu akan berbeda bila misalnya hanya menggunakan ban bawaan pabrik atau dikenal dengan istilah estede (standar). Kandungan kompon (compound) yang berbeda juga akan menghasilkan gigitan (grip) yang berbeda ke permukaan jalan. Apalagi buat yang doyan rebahan di jalan.šŸ˜€ Itu hanya salah satu contoh modif yang positif.

Tapi bila ban diganti dengan ukuran yang terlalu besar pun bisa menjadi negatif. Misal penggunaan ban belakang ukuran 120/80atau ban depan ukuran 100/80 dan seterusnya. Mengapa? Dalam kasus Thunder125, cc mesin yang ‘cuma segitu’ dipaksakan membawa bansebesar itu, wah kasihan bro… Perhatikan juga keawetan rantai dan gir.

Contoh kasus lain, ada yang mengganti shock absorber-nya dengan variasi yang lebih tinggi. Alasannya biar motor jadi nungging dan enak kalau boncengan *halah* tanpa memperhitungkan ubahan lain yang akan mengikuti demi terpasangnya shock itu dan juga keawetan suku cadang lain yang berhubungan. Thunder125 memiliki panjang shock belakang 30 mm. Penggantian idealnya hanya naik/turun maksimal satu tingkat. Misal menjadi 32 mm atau 28 mm. Lebih dari itu diperlukan ubahan pada besi sandaran tengan (center stand) biasanya harus tambah ‘daging’ supaya motor dapat berdiri normal.

Penggantian kaki-kaki motor mulai dari velg, lengan ayun dan shock mesti diperhatikan dengan baik. Banyak yang tergiur dengan penggunaan monoshock pada motor. Biar kaya pembalap! Hahaha… Pembalap kan motornya memang dirancang untuk kerja keras. Dan bukannya dibuat di toko pinggir jalan dengan perhitungan pas-pasan. Pemasangan yang tidak presisi hanya akan membuat bahaya mengintai nyawa pengendara.

Tapi kalau memang Anda kelebihan hasil panen pohon duit, dan juga modifikator pilihan Anda memiliki tingkat presisi yang tinggi dan aman, pilihan barangnya bermutu nomor satu serta tampilan lebih penting daripada fungsi, ya silahkan saja. Toh itu duit juga duit Anda, bukan punya saya apalagi hasil korupsi.

Sekedar saran tambahan, bila Anda sudah membulatkan tekad untuk mengubah tampilan motor, ada baiknya barang-barang yang lama dan asli bawaan pabrik disimpan saja dan jangan dijual demi menambah biaya modif. Just in case terjadi kerusakan, ga perlu repot untuk membeli yang baru kan?

Selamat bermodifikasi!

17 Comments »

  1. *semprot cairan-anti-pertamax*

  2. itikkecil said

    yah…. sudah dikapling…

    kayaknya kalo untuk gaya, buang-buang duit aja…. toh kalo hujan masih akan kehujananšŸ˜€

    *kaburrrr*

  3. 'K, said

    emang klo dtinggiin shok blakang knapa bro?
    koq pake *halah* sgala?

  4. @itikkecil
    biker kan mahluk yang tak kepanasan kala hujan, tak kedinginan kala panasšŸ˜†

    @‘K,
    shock belakang ditinggiin, motor jadi nungging
    saat boncengan, dijamin boncenger mudah merosot ke depan
    efeknya? ya gitu deh bro…šŸ˜€

  5. deking said

    Menurut saya kalau untuk hal2 yang sangat berkaitan dengan keselamatan kayaknya mendingan memilih fungsi.
    Misal pakai ban yang terlalu kecil (gaya drag Thailand) menurut saya lumayan beresiko

  6. efeknya ed..
    tergantung yg di boncengin… hihihihi

    *mabur

  7. evelyn pratiwi yusuf said

    Fungsi duong.
    Tapi kalau fungsi bisa dipadu dengan gaya, keliatannya malah lebih okeh!
    Jadi pengen rombak motor ku niešŸ™‚

  8. mending yg bisa kena dua-duanya..
    box; gaya biar keliatan gede fungsi barang2 bisa taro di box
    stang trail; gaya biar rada gagah fungsi biar kg pegel
    hand guard; gaya biar keliatan serem fungsinya nahan kl jato & biar jari2 kg masuk anginšŸ˜€
    band gede+tubbles; gaya macho fungsi biar bisa nikung ala rossišŸ˜€
    strobo; gaya biar ky polisi fungsi biar lampu motor keliatan ramešŸ˜€, pdhal gw kg masang
    apa lagi ye..

  9. @deKing
    ya itulah, mas…
    kadang orang modif sekenanya
    entah karena keterbatasan bajet
    ato tanpa perhitungan
    sing penting nggaya!

    @harriansyah
    efek berbencong eh berboncengan?
    kan mangkin rapet jadinyašŸ˜†

    ukuran box n ban yg berlebihan juga ga baek
    kesian kapasitas mesin cuman segitu
    disuruh narik barang segono

  10. @evelyn pratiwi yusuf
    waduh maap mbak komennya masuk akismet
    n barusan aja liatnyašŸ˜€

    fungsi n gaya emang paduan yg keren, mbak
    btw, motor tuanya jenis apa?
    saya juga suka motor antikšŸ˜€

  11. thunderkeket_no.1 said

    “Banyak yang tergiur dengan penggunaan monoshock pada motor. Biar kaya pembalap! Hahahaā€¦ Pembalap kan motornya memang dirancang untuk kerja keras. Dan bukannya dibuat di toko pinggir jalan dengan perhitungan pas-pasan. Pemasangan yang tidak presisi hanya akan membuat bahaya mengintai nyawa pengendara.”

    mang kalo mono jadi kerja berat yakk?
    bukan kah suzuki ga bikin thunder125 monoshock karena (mungkin) untuk memperkecil budjet penjualan motornya?!
    karena kalo mono pasti thunder keluar dgn harga 15jt.
    itu sih pemikiran gua aja yah.. kekekekekkkk..

    jadi monoshock.. i’m cooming abis lebaran! hehehe..

  12. @thunderkeket_no.1
    yg lagi dibahas kan modif custom, om
    bukan yg bawaan pabrik…

    om, kalo motornya dah jadi, boleh diliput di sini?

  13. thunderkeket_no.1 said

    halah.. eke malu mas caplang..
    org cuma modip ecek2 dowang.. :sigh:

  14. lho yg bilang bagus emang sapa??šŸ˜›
    yg diliat kan kreatifitas n usahanya, om

  15. Inul075 said

    mas ed gw cuma mu koreksi tulisan loe aja liat kalimat “sekarang setiap daerah memiliki sentar onderdilnya masing-masing” : sentra kan trus liyad “yang baru kualias lapis dua (KW2)” : kualitas kan, nah setelah ini gw mu ngecengin loe siap2 ya

    waktu sd bahasa indonesia loe dapet berapa?
    pas sma diajarin ngetik 10 jari buta ga sih?šŸ˜€

    intermezo ajah abisan bete gw website yg biasa tiap hari gw datengin diblok it “sebel”

  16. […] Artinya posisinya tetap tegak sesuai kaidah ergonomi ideal. Namun terkadang biker lebih memilih estetika (baca : gaya) dibanding fungsi dalam memodifikasi tunggangannya. Padahal ini justru bisa membahayakan keselamatan biker […]

  17. yaya said

    gw, punya vixion, gak puas dgn kaki2nya, cunkgring bangets, ada usulan yg yahud gak boat kaki2 vixion, ??..dgn pertimbangan, jadinya gak lbh tinggi dr tinggi motornya yg standar???..
    thx’s

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: