Kawan Sehati Bukan Teman Sejati

Ular kanan kiri
sebar bisa di nadi
Mereka kawan sehati
bukan teman sejati

Sampah – Netral

Ya, hingga kini aku pun masih setuju dengan potongan lirik di atas. Sebuah prinsip yang aku gunakan baik saat bersosialisasi di masyarakat, lingkungan kerja bahkan saat mencari pasangan hidup dulu.

Sebenarnya penggunaan teman, kawan, sahabat dan istilah lain yang memiliki arti mirip bisa digunakan sesuai dengan selera masing-masing orang. Biasanya yang membedakan adalah intensitas interaksi dan kedalaman tingkat kebersamaan. Istilah ini juga tidak membatasi hanya boleh dilakukan dengan jenis kelamin yang sama. Silakan saja berteman, berkawan dan bersahabat dengan lawan jenis. Hanya saja mungkin akan lebih sedikit sulit.

Sehati yang dimaksud adalah satu hati dalam pemikiran dan pemahaman. Menjadi kawan sehati berarti hanya dan jika menjadi kawan saat merasa memiliki pemikiran dan pemahaman yang sama. Bisa saat bersuka saja atau saat tertentu saja. Biasanya sih saat bersedih orang seperti ini akan menghilang. Selebihnya? Jangan mengharapkan dia akan datang! Memang Anda juga tak bisa mengharapkan seluruh dunia untuk mengetahui dan mengerti persoalan yg Anda alami, tapi ada baiknya berbagi dengan orang lain, orang yang bisa jadi tempat sampah uneg-uneg dan segala caci-maki andalan di saat Anda memerlukannya. Sekedar berbagi walau tanpa pemberian wejangan atau solusi kadang sudah menjadi bagian dari solusi itu sendiri.

Kalau dalam dunia blog, mungkin bisa diandaikan seperti berikut. X adalah teman; rajin kasih komentar di blogku dan demikian sebaliknya. Padahal ‘bisnis’ utama blog kami berbeda. Awalnya memang menyenangkan tapi lama-kelamaan malah mengganggu; terkesan nyampah; asal meninggalkan jejak. Jangan memaksa diri untuk berkomentar; hanya karena ada di blogroll.

Pun dalam memilih pasangan hidup, orang yang akan mendampingi sisa hidup hingga akhir hayat. Kecuali Anda ingin seperti artis yang doyan berpisah dengan pasangan. Cari dan pilih orang yang menurut Anda akan setia tidak hanya saat tertentu tapi siap untuk menerima segala cobaan dan diri Anda ada apanya. Eh maap, maksudnya diri Anda apa adanya. Mudah? Ya enggaklah! Kalau mudah, ga bakal ada yang namanya masa pedekate dan menjadi jomblo (baca : memilih dan menjadi selektif).

Teman sejati? Kebalikannya dari semua tulisan di atas. Gampang kan? 😛

Jadi, kita kawan sehati atau teman sejati?

Salam iseng.

PS : Sumpah, ini benar-benar iseng belaka.

Advertisements

Author: edy

bla bla bla

18 thoughts on “Kawan Sehati Bukan Teman Sejati”

  1. @deKing
    amin…
    ga ada apa2 kok, bro 🙂

    @Dewa Dewi
    ah masa sih?

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    mudah2an kamu beruntung untuk mendapatkannya 🙂

    @harriansyah
    ada duit ga? bagi dong… 😆

    @‘K,
    siyap laksanakan!!

    *beri hormat ke Jenderal Bayut™*

    😆

  2. Apa pun istilahnya, Bung, semua insan di dunia ini pada dasarnya merupakan kawan dan karib kita. Musuh itu konon nggak ada kamusnya. Yang ada itu hanya kawan yang berbeda pendapat. Itu saja, hehehehe :Dy

  3. @itikkecil
    bukaaaan…
    gangguan yg kreatif justru menyenangkan
    lagian saya juga suka nyampah di mana2 😀

    @Sawali Tuhusetya
    betul, pak…
    lebih susyah cari teman daripada cari musuh

    *toss*

  4. Assalamualaikum,wah kalau saya pribadi teman sejati atau teman sehati semua awalnya kan menjalin hubungan dan yang lebih penting dari keduanya itu kita sama-sama menjalin silahturahmi…tergantung diri pribadi mau menetapkan yg A atau yg B tapi buat saya tak ada perbedaannya.Intinya ya ada jalinan Silahturahminya mas.. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s